“Malaikat Tak Bersayap”

Hari ini, Dia terlahir sebagai seorang manusia dengan takdirnya. Dia hidup dan mulai tumbuh dewasa bersama mentari yang menemani-nya dalam putaran waktu kian tak mempunyai arah yang pasti. Dia berjalan, ke kanan ,ke kiri, mencari mana yang lurus, mencari mentari dalam sebuah realita.

Kini jalan-nya terlalu rapuh, terlalu berlobang, dalam kegalauan yang menemani sang mentari yang tak pernah terlelap. Kala senja mempunyai nyali untuk mencoba mengoyak kegelapan yang menghampiri, kala percikan hujan berubah menjadi debu, kala topan berhenti mengamuk, maka dia akan terlahir dengan sebuah takdir yang pasti.

Namun Setiap detik-nya telah di ganti dengan hitungan waktu yang berubah dalam keruh menyelimuti awan putih dan kelabu, kini sama-sama mencari sang pagi yang berwarna. Kala mata dipejam maka semua akan seperti zaman dulu, yang ada hanya putih dan hitam yang ada hanya mati dan hidup yang tak mengenal benar dan salah yang selalu tak pernah terhiraukan oleh setiap detik waktu yang terganti.

Dia masih dalam sebuah dongeng realita takdir kehidupan tengah mencari kebebasan untuk menilai dirinya yang kini terbakar api dalam kesepian. Mungkin takdir tak akan mampu merubah-nya, mungkin jalan tak akan pernah lurus, mungkin dia tak akan pernah tau arti kehidupan yang sesungguhnya. Ketika awan menangis dalam kegelapan, semua seperti terlihat putih abu-abu yang kian memudar, luntur dalam keheningan senja yang telah lama tenggelam dibawah trotoar yang penuh dengan kertas-kertas kotor. Awan terus menangis hingga malaikat datang dan berkata “jangan kau buang air mata-mu awan, jangan kau menangis demi jiwa yang telah lama mati”. Awan seketika berhenti menangis dengan lalu menjawab “aku bukan menangis demi kehidupan yang telah lama mati, tapi aku menangis melihat jiwa-nya terbelenggu dalam kekosongan.”

Malaikat datang menjemput jiwa-nya, namun jiwa-nya tak mau kembali dalam sebuah harapan yang membuat-nya tenggelam lagi dalam takdir yang mempermainkannya. Malaikat juga tak mempunyai sayap untuk menerbangkan jiwa-nya. Sekian lama di dalam kegelapan, pintu gerbag tertutup dan malaikat terkunci dalam penjara kebencian-nya.

Dia tertidur dalam sebuah mimpi buruk yang selalu menghantuinya dan mengancam jiwanya yang labil. Tapi Suatu ketika mimpi itu tiba-tiba lenyap dalam sebuah lukisan indah yang terpajang di setiap dinding-dinding kegelapan “malaikat tak bersayap.”

 

Aceh, 29 Februari 2012

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *